Tak Terima Prabowo Ditantang Pimpin Salat, PA 212 Meradang! Begini Katanya!

“Dulu saya fight untuk dukung Si Prabowo. Salahnya Prabowo itu saya tutupi semua. Saya tahu Prabowo. Kalau soal Islam lebih hebat Pak Jokowi. Pak Jokowi berani mimpin salat. Pak Prabowo berani suruh mimpin salat? Nggak berani. Ayo kita uji keislamannya Pak Prabowo. Suruh Pak Prabowo baca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, baca, bacaan salat. Kita semua jadi saksi,” kata La Nyalla seperti dikutip news.detik.com (11 Desember 2018).
Tak terima jagoannya di Pilpres 2019 itu ditantang La Nyalla, Persaudaraan Alumni (PA) 212 meradang.

Ketum PA 212 Slamet Ma’arif. (republika.co.id)
“Mau ada lomba 17-an? Atau lomba keagamaan? Jangan sombong persoalan agama, urusan keimanan ada di hati dan hanya Allah yang berhak menilainya. Ini mau pilpres bung jadi serahkan pada ahlinya,” kata Ketum PA 212 Slamet Ma’arif seperti dikutip news.detik.com (12 Desember 2018).
Slamet menyatakan urusan keumatan sebaiknya diserahkan pada ulama yang akan mendampingi paslon Prabowo-Sandi. Sedangkan, Prabowo dan Sandi memiliki peran masing-masing.
“Urusan keamanan Insyaallah Pak Prabowo menguasai karena berlatang belakang militer. Urusan ekonomi Bang Sandi pakarnya karena memang pengusaha yang teruji. Urusan keumatan dan keagamaan serahkan pada ulama yang akan mendampingi mereka berdua,” tegas Slamet.
Terkait hal tersebut, Slamet menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat untuk menilai tantangan La Nyalla.
“Biarkan umat yang menilai. PAS Insyaallah berkah buat negeri,” kata Slamet.
Begitulah ciri khas politik kelompok PA 212. Mereka bukan parpol, tapi cukup getol bicara soal politik. Pernyataannya pun terkesan tidak istiqomah dan beda-beda, tergantung siapa yang didukung dan dibelanya.

Ketua GNPF Ulama, Ustadz Yusuf Muhammad Martak menilai kehadiran pakta integritas sangat penting untuk pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (nasional.sindonews.com)
Kelompok PA 212 yang bergabung dengan GNPF-Ulama saat menggelar Ijtimak Ulama I dan II sangat menginginkan cawapres yang digandeng Prabowo adalah sosok ulama, seperti politisi senior PKS Salim Segaf Aljufri atau Ustaz Abdul Somad (UAS). Setelah UAS menolak, Prabowo pun memilih kadernya sendiri di Gerindra, Sandiaga Uno,untuk menjadi cawapresnya.
Namun, toh pada akhirnya PA 212 dan GNPF-Ulama tak bisa berbuat apa-apa. Mereka tetap mendukung Prabowo, siapa pun cawapresnya. Alasannya? Banyak kalangan menduga, PA 212 sejak awal memang sudah tidak suka kepada Jokowi yang dianggap telah membela dan melindungi penista agama (Ahok) dan mengkriminalisasi Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab (HRS) hingga akhirnya lebih memilih tinggal di Arab Saudi hingga sekarang.
Dalam konteks demikian, seandainya yang maju di Pilpres 2019 bukan Prabowo, PA 212 tampaknya juga bakal mendukung total siapa pun yang berani melawan Jokowi. Tujuan utama PA 212 diduga kuat memang untuk menumbangkan Jokowi agar tidak melanjutkan kepemimpinannya pada periode yang kedua.
Sangat beralasan kalau PA 212 bakal pasang badan untuk membela siapa pun yang sehaluan dengan sikap politik PA 212 untuk menyingkirkan Jokowi dari Istana Kepresidenan. Wallahu a'lam! ***

Komentar